Monday, September 1, 2014

Hanya pertanyaan biasa



Saat ini, aku sudah berada di tempat baru. Pindah karena tempat yang lama akan dibangun ulang. Tempat baruku tidak sebesar tempat lama. Bahkan ukurannya adalah seperempat dari dua kali tempat ku yang dulu.

Dibalik kekurangan dan kelebihan, kenyamanan dan ketidaknyamanan di tempat baru, ada satu hal yang paling istimewa. Selama dua puluh empat jam, non stop setiap hari, aku selalu mendengarkan kicauan burung yang beraneka ragam. Sebagai seseorang yang suka mengurung diri dan sulit bersoisalisasi, awalnya aku heran. Tempat baruku sekarang berada di gang yang ukurannya kurang dari satu meter lebarnya dan dikelilingi rumah-rumah orang sunda asli yang suka berbasa-basi sehingga sulit sekali rasanya sekomunitas burung bersuara merdu ada di sekitar.
Ternyata, di depan tempatku adalah sebuah toko yang menjual berbagai macam burung dan perlengkapannya.

Dalam seminggu ini, aku sesekali melewati toko tersebut. Awalnya aku menikmati sekali kicauan tersebut. Tapi, semakin lama aku merasa lain. Ditambah lagi, saat-saat ini aku sedang membaca novel Siklus Warisan karya Christopher Paolini yang sering menceritakan tentang benak makhluk-makhluk selain manusia. Aku menjadi semakin terhanyut dalam pikiranku sendiri, seperti biasanya.

Kali ini, aku bukan ingin mengkritik seperti kebanyakan isi posting blogku sebelumnya. Kali ini lebih kepada pertanyaan kepada diri sendiri.

Aku bertanya dalam hati, "kenapa manusia begitu sangat egoisnya?"

Ingatanku pun melaju ke masa aku masih kecil, di tempat yang entah dimana dan dengan entah siapa, bahkan aku berumur berapa, aku sudah lupa. Tetapi inti percakapan tersebut (yang aku perkirakan saat aku berusia dibawah delapan tahun) sangat melekat di benakku. Alasan kenapa orang-orang ingin mengandangi burung adalah karena suaranya yang merdu dan bukunya yang indah.

Kembali ke zaman sekarang. Aku merasa memang suara burung bisa membuat terlena. Indah dan anggun sekaligus. Tetapi, aku kembali bertanya, "Cukupkah alasan itu membuat manusia mengurung sesuatu yang punya hak sendiri?"

Burung memiliki sayap, layaknya manusia memiliki kaki. Kita bergerak karena kebutuhan. Bahkan aku sendiri yang suka menyendiri (bahkan bisa tidak keluar ruangan selama seminggu) merasa butuh untuk berjalan. Tidak hanya tentang burung. Ada banyak binatang lain yang sengaja di ambil dari habitat aslinya untuk dijadikan hiburan semata yang bahkan terkadang tidak layak sekali.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita yag aku baca di dunia maya mengatakan bahwa ada seekor gajah bernama Raju meneteskan air mata saat dia dibebaskan oleh relawan pencinta alam liar. Tidak tanggung, ternyata gajah tesebut telah di rantai slama lima puluh tahun lebih. Gajah tersebut sering di pindah-tangankan dan diperjual belikan sehingga sangat sulit  untuk dilacak dari mana asalanya. Ada kemungkinan besar dia diculik saat masih bayi dan ibunya dibunuh oleh sang pemburu. Fokus saya kali ini kembali lagi kepada sang gajah yang sudah di bebaskan. Rantai yang mengikat kakinya bahkan sampai melukainya. Dia menangis. Sebuah emosi yang sangat familiar bagi manusia.

Beberapa minggu yang lalu, saat saya berkunjung ke salah satu gramedia di Bandung, saya menemukan sebuah buku yang diperuntukkan untuk anak-anak. Judul buku itu sungguh sangat memprihatinkan; “Kumpulan hewan yang telah punah di Indonesia”. Saat saya membuka halaman perhalaman, maka tibalah saya di bab harimau sumatra dan harimau bali.  Kedua spesius tersebut sangat disayangkan telah punah dan lebih disayangkan lagi, kepunahannya adalah karena pemburuan liar. Bahkan para pemburu dengan bangga memotret dirinya dengan senapan di belakang harimau yang baru saja menghembuskan nyawa.

Saya tidak bisa melakukan apa-apa selain menulis. Dan dengan menulis sekali pun, yang punah tidak akan kembali muncul lagi. Dibutuhkan lebih dari keajaiban seupaya hal itu bisa terjadi. Tetapi tujuan saya menulis ini sekali lagi bukanlah kritik. Kritik akan sangat membantu jika dengan solusi. Saya tidak punya solusi dan tulisan ini hanya bentuk ekspresi pertanyaan hati saya. Haruskah manusia sekejam itu?

No comments:

Post a Comment