Saat ini, aku sudah berada di tempat baru. Pindah karena
tempat yang lama akan dibangun ulang. Tempat baruku tidak sebesar tempat lama.
Bahkan ukurannya adalah seperempat dari dua kali tempat ku yang dulu.
Dibalik kekurangan dan kelebihan, kenyamanan dan
ketidaknyamanan di tempat baru, ada satu hal yang paling istimewa. Selama dua
puluh empat jam, non stop setiap hari, aku selalu mendengarkan kicauan burung
yang beraneka ragam. Sebagai seseorang yang suka mengurung diri dan sulit
bersoisalisasi, awalnya aku heran. Tempat baruku sekarang berada di gang yang
ukurannya kurang dari satu meter lebarnya dan dikelilingi rumah-rumah orang
sunda asli yang suka berbasa-basi sehingga sulit sekali rasanya sekomunitas
burung bersuara merdu ada di sekitar.
Ternyata, di depan tempatku adalah sebuah toko yang
menjual berbagai macam burung dan perlengkapannya.
Dalam seminggu ini, aku sesekali melewati toko tersebut.
Awalnya aku menikmati sekali kicauan tersebut. Tapi, semakin lama aku merasa
lain. Ditambah lagi, saat-saat ini aku sedang membaca novel Siklus Warisan
karya Christopher Paolini yang sering menceritakan tentang benak
makhluk-makhluk selain manusia. Aku menjadi semakin terhanyut dalam pikiranku
sendiri, seperti biasanya.
Kali ini, aku bukan ingin mengkritik seperti kebanyakan
isi posting blogku sebelumnya. Kali ini lebih kepada pertanyaan kepada diri
sendiri.
Aku bertanya dalam hati, "kenapa manusia begitu
sangat egoisnya?"
Ingatanku pun melaju ke masa aku masih kecil, di tempat
yang entah dimana dan dengan entah siapa, bahkan aku berumur berapa, aku sudah
lupa. Tetapi inti percakapan tersebut (yang aku perkirakan saat aku berusia
dibawah delapan tahun) sangat melekat di benakku. Alasan kenapa orang-orang
ingin mengandangi burung adalah karena suaranya yang merdu dan bukunya yang
indah.
Kembali ke zaman sekarang. Aku merasa memang suara burung
bisa membuat terlena. Indah dan anggun sekaligus. Tetapi, aku kembali bertanya,
"Cukupkah alasan itu membuat manusia mengurung sesuatu yang punya hak
sendiri?"
Burung memiliki sayap, layaknya manusia memiliki kaki.
Kita bergerak karena kebutuhan. Bahkan aku sendiri yang suka menyendiri (bahkan
bisa tidak keluar ruangan selama seminggu) merasa butuh untuk berjalan. Tidak
hanya tentang burung. Ada banyak binatang lain yang sengaja di ambil dari
habitat aslinya untuk dijadikan hiburan semata yang bahkan terkadang tidak
layak sekali.
Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita yag aku baca di
dunia maya mengatakan bahwa ada seekor gajah bernama Raju meneteskan air mata
saat dia dibebaskan oleh relawan pencinta alam liar. Tidak tanggung, ternyata
gajah tesebut telah di rantai slama lima puluh tahun lebih. Gajah tersebut
sering di pindah-tangankan dan diperjual belikan sehingga sangat sulit untuk dilacak dari mana asalanya. Ada kemungkinan
besar dia diculik saat masih bayi dan ibunya dibunuh oleh sang pemburu. Fokus saya
kali ini kembali lagi kepada sang gajah yang sudah di bebaskan. Rantai yang
mengikat kakinya bahkan sampai melukainya. Dia menangis. Sebuah emosi yang
sangat familiar bagi manusia.
Beberapa minggu yang lalu, saat saya berkunjung ke salah
satu gramedia di Bandung, saya menemukan sebuah buku yang diperuntukkan untuk
anak-anak. Judul buku itu sungguh sangat memprihatinkan; “Kumpulan hewan yang telah punah di Indonesia”. Saat saya membuka
halaman perhalaman, maka tibalah saya di bab harimau sumatra dan harimau bali. Kedua spesius tersebut sangat disayangkan
telah punah dan lebih disayangkan lagi, kepunahannya adalah karena pemburuan
liar. Bahkan para pemburu dengan bangga memotret dirinya dengan senapan di
belakang harimau yang baru saja menghembuskan nyawa.
Saya tidak bisa melakukan apa-apa selain menulis. Dan dengan
menulis sekali pun, yang punah tidak akan kembali muncul lagi. Dibutuhkan lebih
dari keajaiban seupaya hal itu bisa terjadi. Tetapi tujuan saya menulis ini
sekali lagi bukanlah kritik. Kritik akan sangat membantu jika dengan solusi. Saya
tidak punya solusi dan tulisan ini hanya bentuk ekspresi pertanyaan hati saya.
Haruskah manusia sekejam itu?
No comments:
Post a Comment